Beranda » Dakwah Salafi » KEJUJURAN ADALAH SEBUAH AMALAN YANG AGUNG

KEJUJURAN ADALAH SEBUAH AMALAN YANG AGUNG

KEJUJURAN ADALAH SEBUAH AMALAN YANG AGUNG

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئََاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barang siapa yang Allah beri hidaya, maka tidak ada yang dapat menyesatkan. maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah. Aku bersaksi bahwa tiada ilahi yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu A’laihi Wasallam adalah hamba dan Rasul-Nya

Kehidupan manusia zaman sekarang ini lebih modern atau maju dalam segala bidang ilmu, banyak persoalan-persoalan dalam tatanan kepribadian manusia itu sendiri berubah dari waktu ke waktu. Perkembangan teknologi juga merubah sisi kehidupan manusia dari segi perekonomian, sosial, dan kebudayaan masyarakat. Dengan adanya progresif terhadap tatanan kehidupan manusia maka akan menjadi dunia ini sebagai pencarian  yang lebih utama dibandingkan dengan pencarian kehidupan akhirat, dominasi keduniawian membawa effek terhadap keterpurukan iman bagi kaum muslim.

Dampak sosial dari perkembangan ekonomi dan teknologi  mengarah pada status ekonomi yang menjadi perubahan pendapatan perkapita orang di dunia. Orang berpendapat bahwa kehidupan dunia bagaikan roda pedati, alasannya dari orang yang standar kehidupan ekonominya rendah menjadi tinggi dan sebaliknya standar kehidupan ekonominya tinggi menjadi rendah atau dapat dikatakan perubahan status kaum kaya dan kaum miskin. Perubahan sosial dan ekonomi ini menjadikan sebuah pelajaran bagi manusia dalam memraih rezeki dengan cara yang hak bukan dengan cara yang batil. Sebagaimana firman Allah Subhana wa ta’alla:

وَالَّذِي جَآءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ لَهُم مَّايَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَآءُ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik“. [QS Az zumar: 33-34].

Selanjutnya penjelasan tentang kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama (Dari artikel ‘Jujur, Kiat Menuju Selamat — Muslim.Or.Id’)

Dengan adanya perkembangan ekonomi dunia manusia berlomba-lomba mencari kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya, bagaimana untuk mencapai kekuasaan dan mengumpulkan harta-harta dari hasil kerjanya. Usaha dan kerja keras dalam mencapai cita-cita atau keinginan yang mutlak tidak lepas dari hak (kebenaran) yaitu cara dalam memperoleh hasil kerja keras tersebut apakah dengan cara yang jujur atau tidak. Banyak pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik bahwa seseorang meraih jabatan atau harta di capai dengan cara batil (bukan kebenaran) atau tidak jujur, yaitu melakukan penyuapan dan korupsi uang negara. bukan hanya di lingkungan pemerintahan akan tetapi di mana saja baik dalam lingkungan masyarakat atau pun di lingkungan perkantoran, mungkin cara-cara batil digunakan untuk kepentingan yang dicita-citakan.

Hidup Ini Harus Jujur

Kejujuran merupakan perintah Allah Subhana wa ta’alla kepada manusia untuk digunakan dalam kehidupan di dunia. Dalam menjalani kehidupan ini, seorang insan yang beriman kepada Allah Subhana wa ta’alla dan hari akhir dituntut untuk melazimi kejujuran dalam ucapan maupun perbuatannya. Karena kejujuran merupakan sifat yang terpuji dalam syariat Allah Subhana wa ta’alla . Sementara dusta, lawan dari jujur, merupakan sifat yang tercela. Allah Subhana wa ta’alla berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur” (At-Taubah: 119)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  berkata: “Nabi Shallallahu Alaihi Wasalam mengabarkan bahwa kejujuran adalah asas yang berkonsekuensi kebaikan, sementara dusta adalah asas yang berkonsekuensi kejahatan (http://asysyariah.com/arti-sebuah-kejujuran).

Dari Ibnu Mas’ud r.a bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasalam bersabda “sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. sesungguhnya seseoran selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan Sesungguhnya berdusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga ditulislah di sisi Allah sebagai seorang Pendusta (Muttafaqun alaihi HR. Al-Bukhari 6094 dan Muslim 103/2607) 1.

Bahkan dalam transaksi perdagangan yang sehari-hari kita temukan di tempat pasar tradisional, dianjurkan belaku jujur dalam berdagang, sebagai mana keterangan sebagai berikut;
Abu Khalid Hakim bin Hizam r.a berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam bersabda, “Dua orang yang berjual-beli (penjual dan pembeli) masing-masing memiliki hak pilih (Khiyar) selama keduanya belum berpisah. apabila keduanya bersikap jujur dan berterus terang, maka keduanya akan mendapatkan berkah dalam transaksi jual belinya. Namun, bila keduanya saling menutup-nutupi dan berdusta, maka lenyaplah keberkahan dalam transaksi jual-beli mereka berdua (Muttafaqun alaihi. HR Al-Bukhari 2079 dan Muslim 1532) 2.

Oleh karena itu sifat kejujuran merupakan prilaku terpuji di mata Allah Subhana Wa ta’alla, apabila kita menggunakan sifat tersebut maka kita akan selamat dari apa-apa yang berbentuk kejelekan menimpa terhadap diri kita. Prilaku sikap jujur ini bukan hanya dilakukan pada kegiatan-kegiatan berdagang saja akan tetapi prilaku sikap jujur dilakukan juga  pada taraf kehidupan sosial. Janganlah kedustaan lebih diutamakan dalam meraih keinginan yang nantinya kita termasuk dalam golongan orang-orang munafik dan orang-orang munafik itu terdapat banyak penyakit dihatinya, sebagaimana firman Allah Subhana Wa Ta’alla:

Dan hati mereka ada penyakitnya, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta” (QS. Al-Baqarah: 10)

Maka jadikanlah sikap jujur sebagai alat komunikasi, pergaulan sosial dan penyampaian ilmu segala bidang agar kita termasuk golongan yang mendapatkan keridhoan dan rahmat Allah Subhana Wa Ta’alla.
________________________
1. An-Nawawi, Imam. 2011. Riyadhus Shalihin/Penyusun: Imam An-Nawawi; Penerjemah: Arif Rahman Hakim, LC; Pipih Nurtsani; editor:Andi Wicaksono, Insan Kamil. Hal 51.
2. Ibid, hal 54.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: